Uang adalah salah satu kebutuhan manusia. Walau uang tidak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh, uang adalah media untuk menyediakan kebutuhan manusia. Uang sebagai alat tukar resmi bagi kita manusia (paling tidak anda dan saya) mempunyai nilai tertentu untuk ditukar dengan suatu barang atau jasa.
Menurut prinsep ekonomi, kebutuhan manusia tidak terbatas sedangkan alat pemenuhannya terbatas. Karena itulah manusia dipaksa untuk melakukan hal berupa pilihan dalam hidup untuk memenuhi kebutuhannya. Memillih antara membeli mobil atau sepeda misalnya, merupakan pilihan dalam hidup dengan masing-masing pilihan memiliki untung dan rugi. Untuk mendapatkan uang atau dapat kita sebut juga kebutuhan, diperlukan sebuah usaha. Mengapa dibutuhkan usaha itu karena prinsip ekonomi tadi, barang kebutuhan itu sekarang memiliki nilai yang kita bayar dengan usaha untuk mendapatkan uang tersebut.
Untuk melakukan usaha itulah seperti yang pernah saya baca dari sebuah buku, mana yang akan anda pilih bekerja dengan tekun atau bekerja dengan cerdik. Dari pilihan tadi umumnya (tanpa perhitungan statistik yang dapat dipercaya, hehe. Karena itu, mungkin lebih tepat jika kata di atas bukan umumnya tetapi saya) memilih bekerja dengan cerdik. Dengan bekerja dengan cerdik, kita bisa mendapatkan hasil yang besar dengan beban pekerjaan yang lebih kecil. Curang? Tidak, karena cerdik tidak melanggar HukUm ataupun NorMa yang BerlaKU.
Loading
Wednesday, August 29, 2007
Sunday, August 5, 2007
BelUm AdA JuDul (3)
Mungkin inilah yang harus kita lakukan, tertulis di cover buku tulis. Isinya,
Expect only the best.
What seemed difficult today
may be manageable tomorrow.
Take each obstacle as a challenge.
Trust yourself and be strong.
Believe in your own potentials.
Strive a little harder
and always do your best.
Keep on believing in your dreams.
Always remember that no matter how things turn out,
you can make the best of them.
Expect only the best.
What seemed difficult today
may be manageable tomorrow.
Take each obstacle as a challenge.
Trust yourself and be strong.
Believe in your own potentials.
Strive a little harder
and always do your best.
Keep on believing in your dreams.
Always remember that no matter how things turn out,
you can make the best of them.
BelUm AdA JuDul (2)
Mari kita biarkan saja masalah sontek atau contek. Atau mungkin saja tidak ada yang namanya sontek dan contek. Sudah, jangan dipikirkan lagi..
Setelah itu bu Naning berkata lagi, "Tapi nggak mencontek itu selamat dunia akhirat. " Silakan dipikirkan, apakah nggak dan tapi adalah bahasa Indonesia yang benar. Saya jadi ingat kata bu Naning, bahasa Indonesia itu bukan cuma harus bener, tapi juga harus baik, yang berarti sesuai dengan situasi. Saat ini situasinya cocok (kan?! Ya kan!?) untuk ngegunain kata nggak.
Kita tinggalkan lagi masalah baik dan benar, ,mari garis bawahi selamat dunia akhirat. Disini, aku hanya bisa manggut-manggut. Masuk akal, pikirku. Memang sudah sifat manusia untuk memikirkan kepentingan luar bukan kepentingan dalam (baca: hati) karena tergoda dengan hasil yang terlihat atau terukur.
Mungkin, inilah saatnya kita harus introspeksi diri (ini bukan ceramah Aa' Gym lho). Kadang-kadang, kita sering dibutakan hasil tanpa memperhatikan cara atau proses. Jadi ingat, Finlandia menjadi negara yang maju pendidikannya karena proses belajar yang mengandalkan bagaimana cara memperoleh hasil dan bukan apa hasilnya. Katanya, PR serta ujian ditujukan untuk menunjukkan proses dan bukan hasil. Hasil yang diperoleh oleh anak didik tidak penting, tetapi proses yang penting. Dengan begitu, anak didik pun belajar Walau Hasil yang Didapatkan sebenarnya JeLek.
Setelah itu bu Naning berkata lagi, "Tapi nggak mencontek itu selamat dunia akhirat. " Silakan dipikirkan, apakah nggak dan tapi adalah bahasa Indonesia yang benar. Saya jadi ingat kata bu Naning, bahasa Indonesia itu bukan cuma harus bener, tapi juga harus baik, yang berarti sesuai dengan situasi. Saat ini situasinya cocok (kan?! Ya kan!?) untuk ngegunain kata nggak.
Kita tinggalkan lagi masalah baik dan benar, ,mari garis bawahi selamat dunia akhirat. Disini, aku hanya bisa manggut-manggut. Masuk akal, pikirku. Memang sudah sifat manusia untuk memikirkan kepentingan luar bukan kepentingan dalam (baca: hati) karena tergoda dengan hasil yang terlihat atau terukur.
Mungkin, inilah saatnya kita harus introspeksi diri (ini bukan ceramah Aa' Gym lho). Kadang-kadang, kita sering dibutakan hasil tanpa memperhatikan cara atau proses. Jadi ingat, Finlandia menjadi negara yang maju pendidikannya karena proses belajar yang mengandalkan bagaimana cara memperoleh hasil dan bukan apa hasilnya. Katanya, PR serta ujian ditujukan untuk menunjukkan proses dan bukan hasil. Hasil yang diperoleh oleh anak didik tidak penting, tetapi proses yang penting. Dengan begitu, anak didik pun belajar Walau Hasil yang Didapatkan sebenarnya JeLek.
BelUm AdA JuDul (1)
Dunia makin kejam, itu yang kupikir sekarang. Terutama saat ini di TV, ,seorang ibu meracuni diri sendiri serta anaknya. Bunuh diri aja sudah bikin kita miris dengarnya, apalagi juga membunuh!!!
Mungkin juga, sang ibu memikirkan bagaimana jika anak-anaknya ditinggal olehnya, karena itu dia nekat membunuh anaknya juga.
Yang paling bikin geleng-geleng kepala, waktu dengar alasannya. Diduga ibu itu bunuh diri karena tekanan ekonomi akibat pisah ranjang dengan suaminya. Waktu suaminya ditanya kenapa pisah ranjang, suaminya menjawab karena istrinya selingkuh.
Tampaknya sudah cukup dengan cuplikan berita di atas. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Menurut pendapat pribadi saya, suami yang benar (red: artinya istri yang salah). Dengan bunuh diri aja, sudah salah. Apalagi waktu sebelumnya selingkuh.
Rupanya, perbuatan buruk itu ada akibatnya. Di antaranya ya stress dengan melakukan itu walaupun fisik (mungkin) tidak apa-apa bahkan menyenangkan. Jadi ingat, dulu di SMA (SMAN 5 Bandung) ada guru yang berkata begini (bu Naning, guru bahasa Indonesia), "Jangan nyontek! Karena mencontek itu membuat sulit diri sendiri. Kalau tidak nyontek, lebih sulit lagi."
Sampai kalimat ini, aku hanya bisa melongo, yang benar itu nyontek atau mencontek sih? Kalau kata dasarnya, sontek atau contek? Kalau sontek kan berarti yang benar jangan menyontek. Sedangkan, jika contek berarti yang benar jangan mencontek?!?
Mungkin juga, sang ibu memikirkan bagaimana jika anak-anaknya ditinggal olehnya, karena itu dia nekat membunuh anaknya juga.
Yang paling bikin geleng-geleng kepala, waktu dengar alasannya. Diduga ibu itu bunuh diri karena tekanan ekonomi akibat pisah ranjang dengan suaminya. Waktu suaminya ditanya kenapa pisah ranjang, suaminya menjawab karena istrinya selingkuh.
Tampaknya sudah cukup dengan cuplikan berita di atas. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Menurut pendapat pribadi saya, suami yang benar (red: artinya istri yang salah). Dengan bunuh diri aja, sudah salah. Apalagi waktu sebelumnya selingkuh.
Rupanya, perbuatan buruk itu ada akibatnya. Di antaranya ya stress dengan melakukan itu walaupun fisik (mungkin) tidak apa-apa bahkan menyenangkan. Jadi ingat, dulu di SMA (SMAN 5 Bandung) ada guru yang berkata begini (bu Naning, guru bahasa Indonesia), "Jangan nyontek! Karena mencontek itu membuat sulit diri sendiri. Kalau tidak nyontek, lebih sulit lagi."
Sampai kalimat ini, aku hanya bisa melongo, yang benar itu nyontek atau mencontek sih? Kalau kata dasarnya, sontek atau contek? Kalau sontek kan berarti yang benar jangan menyontek. Sedangkan, jika contek berarti yang benar jangan mencontek?!?
SeleSaiiii......
Hari Jumat, tanggal 3 Agustus 2007. Akhirnya, geladi di Jakarta selatan selesai juga.
Senang, sedih, berat juga untuk menerimanya.
Lumayan, cape juga, tapi ada senangnya juga terutama di hari Jumat itu
(hari terakhir) kegiatan yang dilakukan cukup menyenangkan. Yang paling berkesan waktu
di kediaman kedutaan besar Amerika Serikat. Eits, bukan duta besarnya.. Tapi salah satu pegawai US Embassy gitu..
It's quite fun to have conversation with foreigner. It's not an everyday chance for me. Makes me
wonder when I will go to other countries and be a foreigner n_n. Yeah, keep on dreaming
(not in sarcasm, hohoho).. Maybe someday I'll have the chance to make it real (God, please...)
Perhatian, No Warrranty 4 d EnGliSh.. dOn't Try this at Home
Senang, sedih, berat juga untuk menerimanya.
Lumayan, cape juga, tapi ada senangnya juga terutama di hari Jumat itu
(hari terakhir) kegiatan yang dilakukan cukup menyenangkan. Yang paling berkesan waktu
di kediaman kedutaan besar Amerika Serikat. Eits, bukan duta besarnya.. Tapi salah satu pegawai US Embassy gitu..
It's quite fun to have conversation with foreigner. It's not an everyday chance for me. Makes me
wonder when I will go to other countries and be a foreigner n_n. Yeah, keep on dreaming
(not in sarcasm, hohoho).. Maybe someday I'll have the chance to make it real (God, please...)
Perhatian, No Warrranty 4 d EnGliSh.. dOn't Try this at Home
My First....... BloG
Finally, my first blog...
This blog contains my ideas, thoughts, or my experience. Hopefully,
this blog would be beneficial for everyone who reads it.
Regards,
This blog contains my ideas, thoughts, or my experience. Hopefully,
this blog would be beneficial for everyone who reads it.
Regards,
Subscribe to:
Posts (Atom)

