Mari kita biarkan saja masalah sontek atau contek. Atau mungkin saja tidak ada yang namanya sontek dan contek. Sudah, jangan dipikirkan lagi..
Setelah itu bu Naning berkata lagi, "Tapi nggak mencontek itu selamat dunia akhirat. " Silakan dipikirkan, apakah nggak dan tapi adalah bahasa Indonesia yang benar. Saya jadi ingat kata bu Naning, bahasa Indonesia itu bukan cuma harus bener, tapi juga harus baik, yang berarti sesuai dengan situasi. Saat ini situasinya cocok (kan?! Ya kan!?) untuk ngegunain kata nggak.
Kita tinggalkan lagi masalah baik dan benar, ,mari garis bawahi selamat dunia akhirat. Disini, aku hanya bisa manggut-manggut. Masuk akal, pikirku. Memang sudah sifat manusia untuk memikirkan kepentingan luar bukan kepentingan dalam (baca: hati) karena tergoda dengan hasil yang terlihat atau terukur.
Mungkin, inilah saatnya kita harus introspeksi diri (ini bukan ceramah Aa' Gym lho). Kadang-kadang, kita sering dibutakan hasil tanpa memperhatikan cara atau proses. Jadi ingat, Finlandia menjadi negara yang maju pendidikannya karena proses belajar yang mengandalkan bagaimana cara memperoleh hasil dan bukan apa hasilnya. Katanya, PR serta ujian ditujukan untuk menunjukkan proses dan bukan hasil. Hasil yang diperoleh oleh anak didik tidak penting, tetapi proses yang penting. Dengan begitu, anak didik pun belajar Walau Hasil yang Didapatkan sebenarnya JeLek.
Loading
Sunday, August 5, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment