Man can be whatever he wants. Dalam bahasa Indonesia berarti manusia bisa menjadi apapun yang dia inginkan.
Dari Sang Pemimpi karya Andrea Hirata saat sahabat Arai, Ikal, turun prestasinya di sekolah karena sikap realistis yang menuntunnya kepada sikap pesimis dapat menjadi nasihat yang bagus. Tidak sama dengan perkataan aslinya, tetapi kira-kira begini, "Kemana mimpimu yang dulu, Ikal, mengapa kau tidak bermimpi lagi? Tahukah kau, orang seperti kita ini, kalau tidak bermimpi, akan seperti orang mati!"
Dalam latar cerita tersebut di Belitong, orang-orang Melayu banyak yang miskin dan bekerja menjadi nelayan, kuli, dan lain-lainnya yang tentu saja tidak menjamin hidup, apalagi kaya raya. Seorang Cina Kek yang cukup kaya dalam daerah tersebut, pernah berkata begini, "Kalian orang-orang Melayu tak akan menjadi kaya. Seandainya kalian memiliki penghasilan agak tinggi, mana mau lagi kalian mengerjakan hal-hal remeh-temeh yang dulu kalian kerjakan. Kalian berbeda dengan aku. Seandainya timah di pulau ini telah habis, ikan sudah tidak ada, maka kalian tak akan bisa hidup. Tapi aku, walau terjadi hal seperti itu pun, aku tetap akan hidup." Dialog tersebut bukanlah dialog murni dari buku karya Andrea Hirata, tapi hanya merupakan rangkuman dari dialog-dialog yang kutangkap. Pertanyaannya adalah, mengapa orang tersebut berani berkata begitu? Jawabannya adalah keuletan. Orang Cina Kek tersebut ulet, pandai mencari kesempatan, dan merealisasikannya dalam bentuk tindakan. Hal-hal itulah yang membedakan dirinya dengan orang-orang lain di sekitarnya.
Dan ingatlah kata Arai, "Jangan mendahului nasib." Bersikap pesimis, bertindak seperti orang gagal, atau merasa kalah sebelum berjuang adalah perbuatan mendahului nasib -- sebelum Tuhan memberikan keputusan-Nya pada kita.
Loading
Monday, March 17, 2008
Tuesday, March 4, 2008
A Line of Inspiration
An intention is useless without effort, but any effort is made from intention.
Subscribe to:
Posts (Atom)

